Ketika hidup Anda mengalami kesulitan, apa yang Anda lakukan?

Ketika hidup Anda dalam keadaan darurat, mengalami krisis, atau semua terjadi di luar kendali, apa yang Anda lakukan?

Lawrence Robinson dan Melinda Smith menyatakan Anda perlu membangun resiliansi atau daya tahan, yakni kemampuan untuk mengatasi kehilangan, perubahan, dan trauma yang merupakan bagian hidup yang tak terelakkan.

Bagaimana cara untuk membangun membangun resiliansi atau daya tahan tersebut? Berikut beberapa saran dari mereka:

Pertama. Latih penerimaan. Jangan menyangkal atau menolak kalau Anda sedang mengalami masalah. Penyangkalan terus-menerus akan menghalangi Anda beradaptasi dengan keadaan baru, menghentikan Anda mencari solusi atau mengambil tindakan, dan menghambat proses penyembuhan.

Kedua. Berinvestasilah dalam perawatan diri. Menjalani masa-masa sulit dapat menyebabkan kelelahan emosional, fisik, dan mental. Untuk itu, latih dan rawat tubuh Anda. Berolahragalah secara teratur. Aturlah asupan dan pola makan Anda; hindari minuman/makanan yang dapat berdampak buruk pada otak dan suasana hati, menguras energi, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Latihlah teknik relaksasi seperti yoga dan meditasi guna mengembalikan keseimbangan sistem saraf. Tingkatkan kualitas tidur Anda, misalnya dengan meluangkan waktu untuk bersantai sebelum tidur agar dapat membantu Anda tidur lebih nyenyak di malam hari.

Margie Warrell menyatakan kalau Anda sudah pernah mengalami masalah sebelumnya dan telah berhasil mengatasinya, Anda pasti dapat melakukannya lagi. Jangan remehkan daya tahan yang ada di dalam diri Anda.

Selain itu, Anda perlu meyakini bila diri Anda lebih besar daripada masalah Anda. Hindari memberi label kepada diri sendiri sebagai korban. Anda yang menentukan siapa diri Anda melalui bagaimana Anda menghadapi dan melewati masalah.

Isu-isu tentang pelayanan kesehatan digital di masa depan (2025-2026)

Bidang pelayanan kesehatan digital mengalami perkembangan yang pesat, tetapi sistem kesehatan menghadapi sejumlah masalah di antaranya adalah kelelahan pada ahli klinis dan dokter, kekurangan tenaga kerja, meningkatnya harapan pasien, dan kebutuhan untuk mengadopsi teknologi baru secara bertanggung jawab. Pada saat yang sama, adanya inovasi dalam AI, pemantauan jarak jauh, perangkat yang dapat dikenakan (wearable devices), dan pelayanan secara virtual memberi kesempatan baru untuk meningkatkan hasil, efisiensi, dan keterlibatan pasien.

Berikut beberapa post atau artikel yang membahas sejumlah isu yang berhubungan dengan masa depan dari pelayanan kesehatan digital (dimulai dengan apa yang menjadi trend pada tahun 2025 dan 2026).

***

Sara Siegel menulis:

Deloitte’s 2025 Global Health Care Outlook reinforces these priorities, highlighting that:

Equity in access: Nearly 90% of executives expect digital tools and virtual health to influence strategies in 2025, but unequal access to devices and broadband means health systems must ensure all patients benefit.

Governance & compliance: More than 80% of health system executives expect generative AI to have a significant or moderate impact in 2025, and regulatory oversight is considered essential to ensure safety, ethical use, and data privacy.

Cybersecurity focus: About 78% of health system leaders list enhancing cybersecurity as a top priority, reflecting the importance of protecting patient and organizational data.

Employee & physician engagement: Technology can free up 13–21% of nurses’ time, but effective adoption requires training, workflow redesign, and involvement of frontline staff to ensure solutions are practical and improve care delivery.

#Terjemahan bahasa Indonesia

Laporan Global Health Care Outlook 2025 dari Deloitte memperkuat prioritas-prioritas ini, dengan menyoroti bahwa:

Kesetaraan akses: Hampir 90% eksekutif memperkirakan alat digital dan kesehatan virtual akan memengaruhi strategi pada tahun 2025, tetapi akses yang tidak merata terhadap perangkat dan broadband berarti sistem kesehatan harus memastikan semua pasien mendapatkan manfaat.

Tata Kelola & Kepatuhan: Lebih dari 80% eksekutif sistem kesehatan memperkirakan AI generatif akan memiliki dampak signifikan atau moderat pada tahun 2025, dan pengawasan regulasi dianggap penting untuk memastikan keamanan, penggunaan etis, dan privasi data.

Fokus Keamanan Siber: Sekitar 78% pemimpin sistem kesehatan mencantumkan peningkatan keamanan siber sebagai prioritas utama, yang mencerminkan pentingnya melindungi data pasien dan organisasi.

Keterlibatan Karyawan & Dokter: Teknologi dapat menghemat 13–21% waktu perawat, tetapi adopsi yang efektif membutuhkan pelatihan, perancangan ulang alur kerja, dan keterlibatan staf garis depan untuk memastikan solusi praktis dan meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan.

Sumber:

2025 global health care outlook. https://www.deloitte.com/us/en/insights/industry/health-care/life-sciences-and-health-care-industry-outlooks/2025-global-health-care-executive-outlook.html

***

Anastasiya Kharychkova menulis:

Current state of UX in healthcare: it’s not there yet

The healthcare industry is doing its best to digitize. But due to the legacy technology burden, regulatory guardrails, and multi-stakeholder environments, healthcare digitalization is not keeping pace with the human needs behind the screens.

Fragmented digital experiences across platforms

A typical tech estate in healthcare is patched from legacy software, third-party systems, and new digital tools that don’t always speak the same language. As a result, users encounter inconsistencies when transitioning from billing systems to a patient portal and struggle to navigate the applications.

Healthcare providers, more than anyone else, have to toggle between different systems, log in countless times, and fill in the same data. Patients also have their fair share of UX chaos because their experience is often just as disjointed. They might schedule appointments in one app, access results in another, and communicate elsewhere.

#Terjemahan bahasa Indonesia

Kondisi UX saat ini di bidang kesehatan: belum mencapai target

Industri kesehatan sedang berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan digitalisasi. Namun, karena beban teknologi lama, batasan regulasi, dan lingkungan multi-pemangku kepentingan, digitalisasi kesehatan tidak sejalan dengan kebutuhan manusia di balik layar.

Pengalaman digital yang terfragmentasi di berbagai platform

Teknologi yang umum digunakan di bidang kesehatan terdiri dari perangkat lunak lama, sistem pihak ketiga, dan alat digital baru yang tidak selalu menggunakan bahasa yang sama. Akibatnya, pengguna mengalami inkonsistensi saat beralih dari sistem penagihan ke portal pasien dan kesulitan menavigasi aplikasi.

Penyedia layanan kesehatan, lebih dari siapa pun, harus beralih antar sistem yang berbeda, masuk berkali-kali, dan mengisi data yang sama. Pasien juga mengalami kekacauan UX karena pengalaman mereka seringkali sama terfragmentasinya. Mereka mungkin menjadwalkan janji temu di satu aplikasi, mengakses hasil di aplikasi lain, dan berkomunikasi di tempat lain.

Sumber:

UX design in healthcare: Challenges and trends shaping 2026. https://orangesoft.co/blog/healthcare-ux-design

***

Mihajlo Ivanovic menulis:

Healthcare SEO is one of the most reliable ways to gain more customers or bring new patients through the front door. Whether you’re leading marketing at a healthcare startup, enterprise healthcare SaaS, or a multi-location provider network, your website needs to be visible, trustworthy, and helpful before it can compete in search.

Healthcare SEO is the process of helping your digital health platform, healthcare SaaS, or provider-focused website show up when people search for symptoms, services, or providers online. It works by making your site easier to understand by search engines and more trustworthy to patients.

This is achieved by improving your content, strengthening medical credibility, answering patient questions, and ensuring technical requirements are met, such as site speed, UX, and mobile responsiveness.

When done well, healthcare SEO helps your clinic, practice, or blog appear higher in search results. This way, more searchers can find your content and services at the exact moment they’re looking for care.

How Is Healthcare SEO Different From SEO for Other Industries?

Healthcare SEO follows many of the same principles as general SEO. Quality content, technical optimization, UX, and backlinks matter, but the execution needs to account for some nuances.

Healthcare is one of Google’s most heavily regulated categories — Your Money or Your Life (YMYL) — so your strategy must focus on medical accuracy and patient safety.

Here are some of the key differences you should keep in mind:

YMYL standards: Google applies extra scrutiny to medical content because it can directly impact someone’s health.

E-E-A-T requirements: Your content must showcase real medical expertise, credentials, citations, and clinical oversight.

Compliance needs: Not all successful healthcare websites need HIPAA compliance, but if yours handles patient data, this is another box you’ll need to check.

Local intent: Most patients search for care nearby, making local SEO essential for providers and multi-location businesses.

Complex content types: Healthcare websites often consist of condition pages, treatment pages, provider bios, medical FAQs, etc., each of which requires different SEO approaches.

#Terjemahan bahasa Indonesia

SEO untuk layanan kesehatan adalah salah satu cara paling andal untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan atau mendatangkan pasien baru.

SEO layanan kesehatan adalah proses membantu platform kesehatan digital Anda, SaaS layanan kesehatan, atau situs web yang berfokus pada penyedia layanan kesehatan agar muncul ketika orang mencari gejala, layanan, atau penyedia layanan kesehatan secara online. SEO bekerja dengan membuat situs Anda lebih mudah dipahami oleh mesin pencari dan lebih terpercaya bagi pasien.

Hal ini dicapai dengan meningkatkan konten Anda, memperkuat kredibilitas medis, menjawab pertanyaan pasien, dan memastikan persyaratan teknis terpenuhi, seperti kecepatan situs, UX, dan responsivitas seluler.

Jika dilakukan dengan baik, SEO layanan kesehatan membantu klinik, praktik, atau blog Anda muncul lebih tinggi dalam hasil pencarian. Dengan cara ini, lebih banyak pencari dapat menemukan konten dan layanan Anda tepat pada saat mereka mencari pelayanan/perawatan.

Bagaimana SEO untuk Layanan Kesehatan Berbeda dari SEO untuk Industri Lain?

SEO untuk layanan kesehatan mengikuti banyak prinsip yang sama dengan SEO umum. Konten berkualitas, optimasi teknis, UX, dan backlink penting, tetapi eksekusinya perlu mempertimbangkan beberapa nuansa.

Layanan kesehatan adalah salah satu kategori yang paling ketat diatur oleh Google — Uang Anda atau Hidup Anda (YMYL) — jadi strategi Anda harus fokus pada akurasi medis dan keselamatan pasien.

Berikut beberapa perbedaan utama yang harus Anda ingat:

Standar YMYL: Google menerapkan pengawasan ekstra pada konten medis karena dapat secara langsung memengaruhi kesehatan seseorang.

Persyaratan E-E-A-T: Konten Anda harus menunjukkan keahlian medis nyata, kredensial, kutipan, dan pengawasan klinis.

Kebutuhan kepatuhan: Tidak semua situs web layanan kesehatan yang sukses membutuhkan kepatuhan HIPAA, tetapi jika situs Anda menangani data pasien, ini adalah hal lain yang perlu Anda perhatikan.

Tujuan lokal: Sebagian besar pasien mencari pelayanan di dekat mereka, sehingga SEO lokal sangat penting bagi penyedia layanan dan bisnis multi-lokasi.

Jenis konten yang kompleks: Situs web layanan kesehatan sering kali terdiri dari halaman kondisi (condition pages), halaman pelayanan (treatment pages), biografi penyedia layanan, FAQ medis, dll., yang masing-masing membutuhkan pendekatan SEO yang berbeda.

Sumber:

Healthcare Website SEO: A Marketing Leader’s Blueprint for Ranking and Compliance. 
https://www.flow.ninja/blog/healthcare-website-seo

***

Sergiy S. menulis:

Beberapa contoh inovasi yang mewakili pergeseran mendasar dalam kesehatan digital masa depan. Salah satunya adalah:

Next-generation digital therapeutics (DTx)

Digital therapeutics (DTx) transform from merely mindfulness apps into evidence-based interventions for diabetes, depression, substance abuse, and more. A balance of clinical rigor and behavioral design is essential to reinforcing easy adoption and meaningful engagement.

While it won’t replace traditional medications anytime soon, DTx interfaces may deliver treatments for chronic illnesses more effectively by keeping patients motivated over the long term.

#Terjemahan bahasa Indonesia

Terapi digital generasi berikutnya (DTx)

Terapi digital (DTx) bertransformasi dari sekadar aplikasi mindfulness menjadi intervensi berbasis bukti untuk diabetes, depresi, penyalahgunaan zat, dan banyak lagi. Keseimbangan antara ketelitian klinis dan desain perilaku sangat penting untuk memperkuat adopsi yang mudah dan keterlibatan yang bermakna.

Meskipun tidak akan menggantikan pengobatan tradisional dalam waktu dekat, antarmuka DTx dapat memberikan pelayanan kesehatan untuk penyakit kronis secara lebih efektif dengan menjaga motivasi pasien dalam jangka panjang.

Sumber:

Top 12 digital healthcare UX trends for 2026: AI, interoperability, accessibility, voice tech 
https://www.halo-lab.com/blog/digital-healthcare-ux-trends

***

Evan Davey menulis:

Trend 1: UX shifts from frictionless to trustworthy

Studies show that patients are surprisingly comfortable engaging with AI… when the interaction feels nonjudgmental.

For example, a 2023 JAMA Network Open study found patients disclosed sensitive information (such as alcohol use or medication non-adherence) more frequently to conversational AI than to clinicians, citing reduced fear of judgment.

But that trust is fragile. As soon as an AI moves from “listening” to advising, patients want to understand why the system is recommending a specific action.

That’s where explainable UX becomes essential. This UX preserves the sense of safety that made patients candid in the first place. Without explainability, the trust advantage quickly evaporates.

What trust-centered UX looks like

For patients:

Care recommendations that explain why they’re being made.

Risk alerts that reference lab trends, symptoms, or wearable data.

Transparent reasoning embedded in patient-facing tools.

For clinicians:

Clinical decision support that highlights the exact data points behind a recommendation.

Audit trails that make AI outputs reviewable and defensible in documentation.

Tools that supplement—not replace—clinical judgment.

#Terjemahan bahasa Indonesia

Tren 1: Pergeseran UX dari tanpa hambatan menjadi dapat dipercaya

Studi menunjukkan bahwa pasien merasa nyaman berinteraksi dengan AI, ketika interaksi terasa tidak menghakimi.

Misalnya, sebuah studi JAMA Network Open tahun 2023 menemukan bahwa pasien lebih sering mengungkapkan informasi sensitif (seperti penggunaan alkohol atau ketidakpatuhan pengobatan) kepada AI percakapan daripada kepada dokter, dengan alasan berkurangnya rasa takut dihakimi.

Namun kepercayaan itu rapuh. Begitu AI beralih dari "mendengarkan" ke memberi nasihat, pasien ingin memahami mengapa sistem tersebut merekomendasikan tindakan tertentu.

Di situlah UX yang dapat dijelaskan menjadi penting. UX ini mempertahankan rasa aman yang membuat pasien berani berterus terang sejak awal. Tanpa kemampuan menjelaskan, keuntungan kepercayaan akan cepat hilang.

Seperti apa UX yang berpusat pada kepercayaan itu?

Untuk pasien:

Rekomendasi pelayanan kesehatan yang menjelaskan mengapa rekomendasi tersebut diberikan.

Peringatan risiko yang merujuk pada tren laboratorium, gejala, atau data perangkat yang dapat dikenakan.

Penalaran transparan yang tertanam dalam alat yang digunakan pasien.

Untuk dokter:

Dukungan pengambilan keputusan klinis yang menyoroti poin data yang tepat di balik suatu rekomendasi.

Jejak audit yang membuat output AI dapat ditinjau dan dipertanggungjawabkan dalam dokumentasi.

Alat yang melengkapi—bukan menggantikan—penilaian klinis.

Sumber: 
2026 healthcare trends: Trust, AI, and the workforce. https://www.deptagency.com/insight/2026-healthcare-trends-trust-ai-and-the-workforce/

Post ini diperbarui 1 Januari 2026, pukul 23.09.

Interaksi mikro (microinteractions)

Dalam desain UX, ada istilah interaksi mikro (microinteractions).

Istilah "interaksi mikro" ini dibuat oleh Dan Saffer. Namun, sebagai konsep, interaksi mikro telah dimulai pada tahun 1980-an dengan antarmuka pengguna grafis (graphical user interfaces) yang memungkinkan pengguna (user) berinteraksi dengan komputer melalui ikon alih-alih menggunakan perintah teks.

Interaksi mikro mengacu pada elemen desain yang halus, yang subtil, yang mungkin tidak disadari, tetapi berdampak untuk memandu pengguna (user) atau memberikan umpan balik sensorik selama pengguna (user) melakukan tindakan tertentu. Interaksi mikro muncul melalui animasi, grafik gerak, dan isyarat-isyarat visual.

Dalam keseharian, interaksi mikro adalah momen fungsional pada produk digital dan fisik saat produk memberikan respons/umpan balik terhadap tindakan pengguna. Contohnya antara lain: 1) Produk digital: animasi "like" di media sosial, tombol yang berubah warna saat kursor diarahkan; 2) Produk fisik: sensor keran otomatis di toilet; peringatan suara dan visual saat tidak menggunakan sabuk pengaman ketika naik mobil.

Tujuan utama dari elemen-elemen interaksi mikro adalah untuk selain untuk memandu pengguna dan memberikan respons/umpan balik, juga untuk menanamkan kepribadian ke dalam sebuah desain. Dengan membuat produk lebih interaktif, interaksi mikro mengubah tindakan yang mungkin biasa dari pengguna menjadi pengalaman yang bermakna dan berkesan.

Elemen-elemen atau fitur-fitur dari interaksi mikro dapat memberikan pemahaman kepada pengguna tentang status sistem (apa yang terjadi) pada produk yang sedang digunakan. Selain itu, interaksi mikro dapat membantu pengguna menentukan apakah sistem merespons perintah mereka dengan benar.

Lihat post berikut:

Microinteractions in User Experience.

The Role of Micro-interactions in Modern UX.

14 Micro-Interaction Examples to Enhance the UX and Reduce User Frustration.

12 Micro Animation Examples Bringing Apps to Life in 2025.

Mengatasi depresi

Depresi adalah kondisi kesehatan mental yang terganggu yang kemudian memiliki dampak terhadap pikiran, perasaan, dan tindakan Anda. Kondisi ini biasanya ditandai dengan suasana hati yang buruk atau hilangnya minat terhadap aktivitas untuk jangka waktu yang lama.

Seseorang yang mengalami depresi mungkin merasa: sedih, kecewa, sengsara, kewalahan, frustrasi, atau tidak dapat berkonsentrasi.

Dari berbagai penelitian, ditemukan kalau depresi terjadi akibat interaksi kompleks faktor sosial, psikologis, dan biologis. Orang yang pernah mengalami kekerasan, kehilangan berat badan, atau kejadian buruk lainnya lebih mungkin mengalami depresi. Masalah di sekolah dan pekerjaan juga dapat menyebabkan depresi.

Bagaimana cara mengatasi depresi? Ada dua cara sederhana yang umum dan mudah dilakukan.

Pertama, bergeraklah. Cobalah berolahraga setidaknya 20 menit per hari atau cobalah berjalan kaki selama 10 menit. Cobalah berjalan-jalan di alam atau ruang terbuka. Cobalah bermain dengan anak-anak atau hewan peliharaan.

Kedua, lakukan hal-hal yang membuat Anda merasa senang, rileks, dan bersemangat. Pikiran negatif akan selalu muncul ketika Anda depresi, tapi putus pikiran itu dengan berfokus pada sesuatu yang menambah kesenangan, makna, dan tujuan hidup Anda.

Berhentilah berpikir setiap waktu

Jangan terus-menerus berpikir mengenai suatu hal. Jangan terus-menerus berpikir dan membuat rencana saja. Jangan terjebak dalam teori, konsep, atau pertimbangan-pertimbangan.

Periksa informasi atau data apa saja yang kita miliki. Berdasarkan itu, kita kemudian memutuskan tindakan apa yang paling berpeluang untuk berhasil.

Jadilah aktif. Kita harus belajar membuat keputusan cepat meski tidak sempurna.

Mengejar yang berikutnya

Seorang teman mengatakan pada saya agar berhenti selalu mengejar hal-hal berikutnya. Stop constantly chasing the next thing, stop rushing to the next thing.

Seorang teman lain mengatakan agar kita perlu belajar hidup di masa kini, di waktu sekarang, di saat ini.

Namun, bukankah tidak ada salahnya untuk menjadi bersemangat dan ambisius, terutama bila usia kita masih muda? Atau kita memang harus berjalan biasa dan normal saja di dunia yang serba cepat ini agar kita tidak kelelahan?

Mungkin kita perlu mengenali dan memahami prioritas kita. Mungkin kita perlu manata ulang apa saja prioritas kita yang paling penting atau bernilai.

Apa pentingnya pendidikan?

Kalau pertanyaan mengenai hal apa saja yang membuat pendidikan itu penting, tentu jawabannya bisa sangat banyak. Saya hanya menyebut beberapa yang saya rasakan dan alami.

Untuk individu:

Pendidikan mengajarkan cara berpikir logis, berpikir kritis, dan membuat penilaian secara mandiri.

Pendidikan dapat membantu individu memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Pada masa kini, sumber pengetahuan untuk belajar tentang diri sendiri ini sangatlah, misalnya kursus, pelatihan, buku , atau internet.

Pendidikan dapat meletakkan dasar bagi stabilitas dalam hidup, baik secara finansial maupun emosional. Pendidikan dapat membekali Anda dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk meraih berbagai peluang dan menghadapi kesulitan tertentu dalam hidup.

Pendidikan adalah hak dasar setiap manusia, terlepas dari apa pun latar belakang mereka. Pendidikan menciptakan kesempatan yang sama untuk semua orang. Bila hal ini benar-benar dihayati dan diterapkan maka kita semua dapat memiliki keterbukaan pikiran terhadap segala hal dan semua orang.

Untuk masyarakat:

Pendidikan yang baik akan menghasilkan orang-orang terdidik yang nantinya dapat mendorong masyarakat semakin maju. Orang-orang terdidik ini memiliki kesempatan membuat dunia menjadi lebih baik melalui pengetahuan mereka.

Pendidikan dapat menghasilkan orang-orang yang berprestasi dan sukses. Orang-orang ini diharapkan nantinya memiliki kemampuan untuk memberi kembali kepada kelompok, komunitas, atau masyarakatnya.

Motivasi untuk bertindak

Apa yang membuat kita termotivasi untuk bertindak? Untuk mencapai semua yang kita inginkan, untuk membuktikan bahwa kita memiliki kemampuan, untuk mengetahui bahwa aksi kita menghasilkan kemajuan, atau untuk memperoleh makna mengenai kehidupan.

Pada dasarnya, motivasi itu bersifat personal. Motivasi itu ciptaan diri sendiri untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Motivasi selalu dimulai dari dalam diri. Diri kita yang memutuskan apa tujuan hidup kita yang penting, berharga, atau bermakna. Setelah kita tahu apa yang dituju, kita kemudian berusaha untuk mencapainya.

Tapi itu baru setengah cerita dari proses. Setengah ceritanya lagi adalah tentang diri kita yang akan menghadapi gangguan atau godaan yang datang dari diri sendiri dan orang lain untuk melakukan hal yang berbeda dari yang sudah direncanakan.

Tugas kita adalah mengelola permainan atau dinamika yang muncul dari dua sisi cerita di atas.

Kita perlu belajar mengenali dan mengendalikan kondisi pikiran dan suasana hati kita. Kita perlu belajar mengetahui mana kondisi pikiran positif dan negatif di dalam diri kita. Kita perlu belajar bagaimana faktor-faktor seperti fisiologi dan asupan energi untuk tubuh dapat mempengaruhi suasana hati kita.

Pada akhirnya, motivasi adalah permainan batin.

Periksa asumsi Anda

Asumsi adalah keyakinan atau gagasan atau proposisi yang tidak didasarkan pada bukti empiris. Bila Anda memiliki asumsi terhadap sesuatu, umumnya itu berarti Anda menganggap sesuatu itu sebagai benar atau memiliki kebenaran, meskipun Anda memiliki sedikit bukti atau alasan untuk mendukungnya.

Dari mana datangnya asumsi? Asumsi dapat datang dari pengetahuan, pengalaman masa lalu, dan intuisi pribadi. Selain itu, asumsi juga dapat datang dari bias pribadi dan informasi yang terbatas.

Bagaimana cara menghindari asumsi yang buruk?

Pertama, kenali dan pertanyakan asumsi yang Anda miliki.

Kedua, identifikasi dan pisahkan mana asumsi dan mana fakta.

Ketiga, jangan membuat asumsi berdasarkan informasi atau data yang buruk.

Keempat, periksa dan kritisi keyakinan Anda; pastikan bahwa keyakinan Anda tersebut bukan sekadar asumsi berdasarkan bias atau pemikiran yang salah.

Asumsi mungkin bisa dikatakan semacam jalan pintas kognitif yang Anda pakai untuk memudahkan diri Anda memahami kompleksitas dunia di sekitar Anda. Karena itu jalan pintas maka tujuan asumsi adalah membantu memproses informasi atau data secara efisien. Namun karena tidak memiliki bukti, asumsi sering kali dapat menimbulkan bias dan kesalahpahaman.

Sederhananya: hanya karena kita menganggap sesuatu itu benar, bukan berarti itu benar.

Menjadi pendengar yang aktif

Mendengarkan secara aktif adalah upaya untuk memproses dan memahami secara aktif maksud dan makna dari apa yang disampaikan juga apa yang ada di balik yang disampaikan.

Berikut sedikit saran bagaimana menjadi pendengar yang aktif:

Fokuslah sepenuhnya pada lawan bicara atau pembicara. Mendengarlah dengan penuh perhatian. Upayakan dapat melakukan kontak mata. Jangan terus-menerus mengecek ponsel. Fokus dan perhatikan isyarat nonverbal, seperti bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah. Perhatikan baik informasi eksplisit maupun implisit yang Anda terima.

Belajarlah untuk mengesampingkan penilaian. Anda perlu mencoba tidak melakukan penilaian berdasar sudut pandang Anda. Jangan menyalahkan atau mengkritik. Anda mungkin tidak setuju terhadap ide, nilai, atau pendapat lawan bicara Anda, tetapi Anda harus memberi mereka waktu untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan.

Upayakan untuk tidak memotong atau menyela. Upayakan untuk tidak menanggapi ketika lawan bicara masih berbicara. Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang menjadi perhatian Anda atau jangan mengubah topik pembicaraan secara tiba-tiba. Kalau Anda melakukan hal-hal ini, Anda sama saja dengan menunjukkan ketidaksukaan, ketidaksabaran, atau kebosanan.

Murah hati

Murah hati membutuhkan empati. Murah hati membutuhkan kesediaan untuk melihat dan memahami bahwa masalah orang lain perlu lebih diperhatikan daripada masalah diri sendiri.

Murah hati membutuhkan kepercayaan diri untuk berbagi, bahkan berkorban. Murah hati berarti fokus Anda bukan pada diri Anda, tetapi pada orang lain.

Murah hati bukan sekadar tentang mentalitas berkelimpahan, tetapi lebih tentang rasa syukur dan empati.

Prasangka buruk

Prasangka buruk dapat mengakibatkan timbulnya bias, intoleransi terhadap yang berbeda, ujaran kebencian, tindak kejahatan berdasar pada kebencian, diskrimasi, hingga penindasan.

Masalahnya prasangka buruk yang terjadi pada diri kita sering kali terjadi tanpa kita sadari. Bisa saja prasangka itu sudah mengakar atau diajarkan. Yang terpenting kita perlu menyadari dan melawan prasangka buruk yang kita miliki terhadap orang lain.

Bagaimana cara melawan prasangka buruk?

Kita perlu memahami dan menerima bahwa prasangka itu memang ada. Kita sering bias, baik secara sadar maupun tidak, terhadap orang lain. Coba uji prasangka buruk kita dengan pertanyaan semacam ini: Bukti apa yang kita miliki yang membuat penilaian kita tentang orang tertentu itu benar? Atau apa yang saya ketahui dan tidak saya ketahui tentang orang atau kelompok ini?

Belajarlah berempati kepada orang dari kelompok lain. Bayangkan diri kita berada dalam posisi yang sama dengan orang lain tersebut.

Jalinlah hubungan dengan orang dari kelompok lain. Kenali prasangka seperti apa yang mereka alami dari orang lain. Kita harus belajar memahami bagaimana rasanya dinilai berdasarkan sesuatu seperti warna kulit, jenis kelamin, etnis, agama, atau usia kita.

Sabotase diri

Saya sering melakukan sabotase terhadap diri sendiri. Bagaimana bentuk sabotase diri itu? Semua aktivitas yang sudah saya mulai dan jalankan, tetapi kemudian tidak saya tuntaskan. Semua hal yang saya niatkan untuk lakukan, tetapi tidak pernah saya wujudkan.

Anda mungkin pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Anda meragukan diri sendiri dan menghindar dari tantangan. Atau Anda sudah dalam sebuah proses mengerjakan atau membangun sesuatu, lalu entah dari mana, Anda akan menemukan alasan untuk tidak melanjutkan.

Ketika momen-momen semacam ini menjadi pola yang berulang, Anda sebenarnya sedang melakukan sabotase diri.

Sabotase diri dapat dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Merasa diri tidak cukup baik, takut gagal, takut terhadap hal yang tidak diketahui, bahkan takut terhadap tekanan yang datang seiring dengan kesuksesan. Penyebab juga dapat datang dari kesulitan yang dialami pada masa kecil, kesulitan dalam relasi, hingga masalah disonansi kognitif.

Bagaimana cara mengatasi sabotase diri? Yang paling sederhana adalah Anda dapat membuat catatan mengenai apa saja perilaku yang merugikan diri sendiri dan stres yang ditimbulkannya. Lalu catat juga apa atau dari mana sumber stres tersebut serta bagaimana cara merespons yang lebih baik dan lebih sehat.

Optimisme atau pesimisme

Seorang teman mengatakan ke saya kalau optimisme atau pesimisme itu hanyalah cerita yang saya ceritakan pada diri saya sendiri. Ketika saya menceritakan hal-hal negatif kepada diri saya, saya akan menjadi pesimis. Sebaliknya, kalau saya menceritakan hal-hal positif kepada diri saya, saya akan menjadi optimis.

Orang yang pesimis cenderung terpaku pada kekurangan atau kelemahan, tidak mengeksplorasi berbagai hal karena takut gagal, dan mengabaikan keterampilan diri atau kekuatan pribadi.

Orang yang optimis mencoba untuk proaktif, tidak menyerah, dan percaya bahwa tindakan yang dilakukan penting dan memiliki dampak.

Optimisme atau pesimisme berhubungan dengan kesadaran diri. Ketika Anda menjadi lebih sadar akan respons khas dari diri Anda, Anda secara bertahap akan dapat mengenali apa yang biasa Anda katakan pada diri Anda sendiri. Setelah Anda menyadari seperti apa kebiasaan dari diri Anda ketika menghadapi atau mengalami suatu hal, Anda kemudian punya pilihan untuk mengubahnya atau tidak.

Anda selalu dapat mempersiapkan diri menghadapi situasi sulit sembari tetap berharap yang terbaik.

Jalan dan jembatan

Jalan dan jembatan lebih dibutuhkan daripada gedung. Membangun jalan dan jembatan lebih penting daripada membangun gedung.

Jalan dan jembatan adalah penggerak utama aktivitas ekonomi.

Jalan dan jembatan memungkinkan perjalanan orang untuk dapat membeli barang dan jasa di sekitar area tinggalnya dan di luar area tinggalnya.

Jalan dan jembatan memungkinkan perjalanan orang untuk mengirim bahan mentah dan barang jadi ke beragam tujuan.

Jika ingin membuat sesuatu yang memiliki dampak jangka panjang, bangunlah jalan dan jembatan.

Kolaborasi itu penting tapi tidak mudah

Pernahkan Anda mendengar kalimat-kalimat berikut:

“Tidak seorang pun yang memiliki semua jawaban.”

“Masalah-masalah rumit yang kita hadapi tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja.”

“Kita butuh bantuan dari berbagai disiplin ilmu karena yang kita hadapi ini adalah masalah yang kompleks dan multidimensi.”

Kalau melihat kalimat-kalimat di atas, Anda dan saya tahu kalau kolaborasi itu diperlukan. Kita harus bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikan masalah atau mencapai tujuan tertentu.

Tapi mengapa kolaborasi tidak mudah dilakukan? Pengalaman saya, salah satu hal yang masalah yang menentukan berhasil tidaknya kolaborasi adalah kepercayaan.

Komunikasi yang efektif

Komunikasi yang efektif bukan hanya tentang bertukar informasi. Komunikasi yang efektif adalah proses pertukaran pesan (informasi, ide, opini, atau jenis pesan lainnya) antara dua orang atau lebih yang menghasilkan pemahaman bersama.

Agar komunikasi yang efektif dapat dicapai, Anda harus mampu menyampaikan pesan dengan jelas. Selain itu, Anda juga perlu mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan oleh lawan bicara Anda. Dengan begitu, bukan hanya Anda dapat memahami sepenuhnya apa yang dikatakan lawan bicara Anda, tetapi Anda juga membuat lawan bicara Anda tersebut merasa didengar dan dipahami.

Apa yang perlu Anda lakukan agar Anda bisa berkomunikasi secara efektif?

Sampaikan informasi atau pesan Anda secara jelas dan ringkas. Hindari kata-kata yang tidak perlu dan bahasa yang terlalu kompleks atau terlalu berbunga-bunga.

Semua isyarat nonverbal Anda harus mendukung pesan Anda. Jangan sampai komunikasi verbal dan nonverbal Anda saling bertentangan yang kemudian menyebabkan kebingungan. Ingatlah kalau bahasa tubuh dan ekspresi wajah, bahkan nada suara Anda, dapat menyampaikan lebih banyak hal daripada apa yang Anda katakan.

Belajar dan berlatihlah untuk mendengarkan secara aktif. Berikan perhatian penuh dan tidak terbagi kepada orang yang bicara dengan Anda karena Anda tidak hanya sedang mendengar kata-kata yang diucapkan orang tersebut, tetapi Anda juga harus menangkap seluruh pesannya.

Ketidakpastian itu alami

Ketidakpastian adalah hal yang melekat dalam kehidupan.

Anda bisa saja percaya bahwa begitu Anda mencapai tahap berikutnya dalam hidup Anda -seperti rumah baru, pekerjaan baru, relasi baru- ketidakpastian yang Anda alami akan hilang. Namun, begitu Anda mencapai tahap baru tersebut, Anda akan menghadapi ketidakpastian yang berbeda yang relevan dengan tahap tersebut.

Pengetahuan Anda tentang peristiwa, orang, barang, dan hal lainnya selalu terbatas. Anda bisa saja merencanakan, mengendalikan, atau memprediksi hasil di masa mendatang, tetapi peristiwa acak dapat dan memang selalu terjadi.

Anda tak bisa menganggap ketidakpastian sebagai musuh karena segala sesuatu memang berubah setiap hari.

Anda perlu belajar menerima bahwa ketidakpastian dan perubahan adalah bagian yang normal dari kehidupan. Setelah itu, Anda belajar bagaimana cara mengubah cara berpikir Anda sehingga Anda dapat hidup tanpa terus-menerus cemas dan takut akan hal yang tak terelakkan.

Mengatur sumber daya yang terbatas

Ketika Anda dihadapkan dengan jumlah yang banyak, sangat berlimpah, atau bahkan tak terbatas, apa hal terpenting yang dapat Anda lakukan?

Ketahui sejauh mana bagian dan porsi yang Anda perlukan.

Kendalikan diri Anda. Aturlah emosi, pikiran, dan perilaku Anda; aturlah dorongan dan keinginan yang muncul dalam diri Anda. Semua hal tersebut adalah sumber daya yang terbatas yang Anda miliki.

Kasus kejahatan

Saya tidak mempelajari ilmu hukum atau ilmu krimonologi secara formal. Saya menulis ini hanya karena saya tertarik pada film-film yang mengisahkan tentang kasus kejahatan.

Pertanyaan yang muncul saat saya menonton film-film itu adalah apa yang paling penting ketika mempelajari dan memahami suatu kasus kejahatan? Menurut saya, ada dua.

Pertama, Anda harus peduli pada motif dan niat. Motif adalah alasan terjadinya kejahatan. Niat adalah keputusan sadar untuk melakukan kejahatan.

Motif biasanya didasarkan pada suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengarah pada tindak kejahatan. Motif memberikan alasan mengapa kejahatan terjadi.

Niat berarti hal-hal yang direncanakan untuk dilakukan atau dicapai. Niat adalah keputusan sadar untuk melakukan kejahatan.

Kedua, Anda harus peduli pada bukti. Bukti mengacu pada berbagai sumber informasi yang bisa dipakai untuk membuktikan atau membantah poin-poin yang dipermasalahkan dalam suatu kasus kejahatan.

Bukti adalah komponen dasar dalam proses investigasi terhadap kasus kejahatan. Bukti harus dikumpulkan, didokumentasikan, dilindungi, divalidasi, dianalisis, dan pada akhirnya akan dipresentasikan.

Apa yang dapat dilakukan oleh musik?

Music is the best thing in the whole galaxy.

Kalimat itu diucapkan oleh seorang murid sekolah dasar ketika Jacob Collier mengajar tentang musik di kelasnya.

Musik memberikan dampak pada kesehatan fisik, mental, dan emosional. Musik dapat membantu Anda untuk mengelola emosi dan suasana hati, meningkatkan produktivitas dan konsentrasi, bahkan musik dapat membantu tidur Anda menjadi lebih baik.

Bagi Paul Nordoff dan Clive Robbins, serta mungkin juga semua terapis musik lain di dunia, musik dapat menjadi penyelamat bagi orang-orang yang mengalami hambatan atau isolasi dengan kondisi-kondisi fisik, psikologis, emosional, dan neurologisnya.

Daniel J. Levitin dan Mona Lisa Chanda menemukan bahwa musik meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dan mengurangi stres. Mendengarkan musik juga ditemukan lebih efektif daripada obat resep dalam mengurangi kecemasan sebelum operasi.

Musik dapat meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit. Para peneliti menemukan bahwa gerakan fisik yang digunakan ketika memainkan musik (bergerak saat bernyanyi, memainkan alat musik, atau menari) memunculkan aktivitas yang tersinkronisasi yang secara signifikan meningkatkan ambang batas terhadap rasa sakit. Para terapis musik menggunakan musik untuk mencapai tujuan seperti pengurangan rasa sakit.

Musik memiliki kemampuan untuk membuat Anda merasa gembira, nyaman, termotivasi, dan rileks. Musik memiliki kekuatan untuk membawa kita kembali ke masa lalu dan menenangkan pikiran yang cemas.

Bagaimana cara memilih warna yang tepat?

Apa warna yang tepat untuk menggambarkan diri Anda? Apa warna yang tepat untuk menggambarkan brand Anda? Apa warna pakaian yang paling mewakili identitas diri Anda? Apa warna kemasan dan logo yang paling menggambarkan produk atau jasa Anda?

Para peneliti, khususnya di bidang marketing dan desain, mungkin telah menemukan pola dalam respons manusia terhadap warna. Ada yang menyebutnya sebagai teori warna atau psikologi warna. Namun, sepertinya tidak ada yang benar-benar akurat.

Pengetahuan bahwa satu warna akan mempengaruhi emosi tertentu tidak bisa dianggap berlaku secara universal. Anda dapat menganggap warna tertentu menarik secara subjektif bagi diri Anda, tetapi Anda perlu menimbang apakah warna tersebut secara objektif mewakili diri Anda di mata orang lain.

Contoh yang paling umum mungkin adalah warna merah. Orang pertama bisa saja menganggap merah sebagai warna yang memikat. Orang kedua bisa saja menganggap merah sebagai warna yang mengerikan.

Cara lain untuk memilih warna, selain dari pengetahuan tentang teori warna atau psikologi warna, adalah membuat daftar dan menganalisis semua aspek penting yang berhubungan dengan identitas diri Anda atau brand Anda.

Di satu sisi, Anda harus mengumpulkan informasi mengenai sejarah, pesan yang ingin disampaikan, serta nilai-nilai inti dari diri Anda atau brand Anda. Pertimbangkan karakteristik mana yang paling mewakili kepribadian dari diri Anda atau brand Anda.

Di sisi lain, amati dan pelajari seperti apa konteks dan audiens yang menjadi tujuan dari diri Anda atau brand Anda. Misalnya, Anda perlu mengetahui budaya, jenis kelamin, dan usia dari audiens Anda karena warna yang berbeda dipersepsikan dengan cara yang berbeda oleh orang yang berbeda.

Bagaimana agar Anda menjadi eksklusif?

Eksklusif yang saya maksud di sini bukanlah yang negatif. Bukan Anda sekadar menciptakan kesan khusus lalu Anda memisahkan diri dari semua orang. Eksklusif yang saya maksud adalah Anda mengutamakan hal-hal penting seperti kualitas, berani menjadi diri sendiri, dan mengembangkan diri secara berbeda.

Bagaimana carannya?

Anda terus belajar mengenali dan mengembangkan kemampuan untuk mengenali pikiran dan perasaan Anda sendiri. Jadilah unik, khas, tidak ikut-kutan.

Berkomunikasilah dengan jelas dan selalu mendengarkan dengan seksama.

Berhati-hatilah bertutur dan selalu pertimbangkan kata-kata yang Anda sampaikan.

Perlakukan orang lain dengan positif dan hormat. Mintalah maaf bila Anda telah melakukan kesalahan.

Tetaplah tenang ketika menanggapi sesuatu. Jangan mudah terpancing, cemas, atau reaktif. Kelola emosi Anda.

Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, lakukanlah. Selalu upayakan untuk menepati komitmen Anda dalam perkataan dan perbuatan.

Jika seseorang memercayai Anda dan memberi tahu Anda sesuatu, jangan bagikan informasi orang tersebut dengan orang lain. Selalu jaga kerahasiaan.

Ambisi

Ambisi seharusnya bukan tentang sikap egois atau arogansi.

Ambisi seharusnya adalah bentuk otorisasi diri. Anda melakukan sesuatu, bertindak, atau mempercayai sesuatu tanpa persetujuan eksternal. Anda memberi izin atau wewenang kepada diri Anda sendiri.

Kompromi bukan hal yang buruk

Kompromi bisa menjadi hal buruk. Kita dapat dianggap tidak setia pada nilai-nilai dan keyakinan inti kita. Anggapan seperti ini tidaklah benar karena dalam kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan kompromi.

Kita membuat kompromi dengan teman, saudara kandung, tetangga, atau pasangan kita agar tetap dapat bersama. Di tempat kerja, kita membuat kompromi dengan atasan dan rekan kerja kita. Di jalan, kita membuat kompromi dengan semua kendaraan yang melintas dan juga dengan orang yang berjalan kaki.

Kompromi itu seperti mencapai kesepakatan bersama. Kompromi berarti kita menemukan titik temu dengan orang lain.